bukan cinta nyata - cerpen emekecek
Terpesona? Bukan. Kagum ? Bukan. Agresip? Entahlah. Cinta ? Memang! Tapi..yang lebih tepat, Rindu!
eR I eN De U. Kata itu berhuruf besar , tebal dan bergaris bawah .
Aku mematut bayangan diri. Keruh pikiran bentrok dengan hati.Pffff . . Apa yang membuatku berdiri sekarang di sini? Tercenung kosong sambil menunggu tibanya waktu keberangkatan di Ruang tunggu bandara Soekarno Hatta. Menuju tempatmu, belahan jiwa.
«««
Nekat! Rara menghakimiku sebelum aku berangkat secara tiba – tiba hari ini. Keputusan yang sangat nekat!
“Gila ,Lo…ngapain ke sana
Aku menoleh sekilas ke arahnya yang terduduk pasrah menahan gemas sambil tak menghentikan gerakanku berkemas.
“Kandhi, lihat gue,” Rara menatap mataku lekat,” please, jangan lakukan ini kepada diri elo…hhhhh….akan membuatmu nangis darah, tau!!! Heran…koq nggak kapok – kaponya terluka. . . . ”
Aku masih belum menjawab. Perlahan menyandarkan tubuh ke pintu lemari.
“Ra, mungkin aku gila, mungkin itu agresif…dan nggak ada harga diri….tapi aku harus ke sana
“Terserah apa kata elo, sebagai seorang sahabat, yang seharusnya mengatakan sebuah kebenaran….nggak sepantasnya elo datang ke sana
“Aku mungkin tidak punya logika, hanya mengikuti perasaan saja….”ujarku acuh,” aku berangkat, Ra….doain aja…semua berjalan lancar di sana
Aku mencium pipi Rara dan meninggalkan sejuta kernyit di wajahnya.
«««
Sepanjang perjalanan menuju bandara lidahku kelu. Semuanya terasa tak beraturan ritmenya. Deg – deg an campur pusing. Kalau dibilang langkah yang kuambil salah, mungkin salah. Tapi….
“Penumpang Wings Air Tujuan Solo, DQ123 silahkan menuju gate 3 F untuk naik ke pesawat” Suara pengumuman yang lumayan kenceng membuyarkan semua perang di kepalaku.
Ugh, Solo, I’m coming. . kembali lagi kepadamu, setelah beberapa waktu berlalu..
«««
Hujan cukup mendebarkan hati saat kujejakkan kaki di gedung pagelaran pentas ketoprak RRI Solo, malam ini. Aku beringsut perlahan mencari tempat aman. Bagaimana caranya menonton tanpa keliahatan Aku merunduk perlahan ke tempat sekitar gamelan. Akhirnya dapat juga tempat strategis dan tak akan terlihat.
Pertunjukan pukul delapan , gumamku sambil melirik jam di pergelangan tangan.
Perlahan layar terkembang dan pentaspun dimulai. Terpaku .. Duh, sosok itu…yang sungguh kurindu, menghentikan seluruh detak jantungku. . ada di panggung itu.
Teringat, saat pertama bertemu . .
“serius nih,mbak… aku dapat tugas motret pertunjukan wayang orang di Gedung Kesenian?” tanyaku tak percaya pada mbak Krida, redaktur pelaksana fotografi tempatku bekerja.
“serius, lah…masa bercanda?” Ujarnya cuek tak melepaskan pandangnya dari negative film yang sedang diperiksanya.
“tapi kan
“Ya ampun, Kandhi…please grow up…hasil foto kamu itu…excellent! Itulah sebabnya aku menugaskan kamu sekarang untuk meliput pentas itu buat edisi bulan depan..heiii …percaya diri aja kenapa sih? We count on you, ok?!?!?”
“Pfffff……aku bisa bilang apa? SIAP, BOSS!! I have no choice…just wish me luck…. “
Akhirnya, berbekal amunisi percaya diri seratus juta , aku mengemban tugas motret pentas wayang orang. Duh, kalau saja boleh memilih, mending nyebur ke laut di banding motret acara panggung. Aku kan
Perlahan menyusuri koridor menemui koodinator pentas untuk mohon ijin meliput. Kutebarkan pandangan menyapu sekeliling dan memperhatikan pemain yang sedang bersiap , berdandan untuk pentas.
“Mari, mbak..kita ke panggung saja dulu, biar mbak bisa lihat situasi,” Pak Mulyono selaku koordinator membawaku ke sisi panggung untuk melihat beberapa pemain sedang meyelesaikan gladi bersih. Kubidikkan kamera mengambil beberapa moment menarik. Dan saat itu, aku melihat gerakmu …sosok yang sempurna. Kuterpesona. Damn! He is so cool..!! Huaaaaa…gorgeous.. Dari balik kamera kupuaskan menikmati keindahanmu.
“Ehmm…mbak, permisi…jangan di situ, backgroundnya tidak bisa ditarik..” seorang tim kreatif menepuk bahuku. Uupssss…aku langsung menyingkir sigap dan tak memperhatikan langkah kakiku menginjak kaki seseorang.
“Aduh…maaf,” aku menoleh merasa bersalah. Upssssss…it’s him !
“Ndak pa pa…,” ujarnya tanpa ekspresi. Aku tersenyum kecut. “maaf, sekali lagi ya, mas..”
Ia hanya mengangguk dan berlalu. Duh, dinginnya,gumamku, kayak es batu.
Pak Mulyono mengajak berkeliling dan memperkenalkan aku pada beberapa pemain . Sejenak aku duduk menunggu waktu dan menoleh saat pak Mulyono berjalan ke arahku dengan…..sosok es batu itu!
“Eh iya, mbak Kandhi…ini, kenalkan Mas Juna..malam ini beliau yang peran utama..”
Glekkk…aku menelan ludah. Malu – maluin. Koq semaput rasanya? Ini tandanya apa?
Aku mengangsurkan tanganku . Ia tersenyum dan menjabat tanganku erat. Ugh, dia bisa tersenyum?
“Kandhi…”
“Juna..”
Juna? Hmmm…Sounds familiar…setelah itu kami terdiam. Duduk bersisian. Pak Mulyono telah meninggalkan kami berdua.
Aku menoleh ke arahnya dan ia menatap ke arahku. Aku tersenyum rikuh. Baru saja aku hendak membuka mulut membuka pembicaraan, ia beranjak ,” maaf, saya harus siap – siap…permisi..”
Aku tercekat dan terpana . What?!?! Secepat itu? Erangku dalam hati.
“I-iya, mas…sukses buat pentasnya..” Ia melangkah tanpa menoleh kepadaku. Duh, biyung…dingin betul.
Sepanjang pertunjukan konsentrasiku agak buyar. Ia begitu sempurna di panggung. S E M P U R N A !! Saat kilau cahaya lampu menerpa wajahnya, menyinari lekuk tubuhnya . . terbentuk siluet yang sungguh indah. Pffffff….bagus sekali.
Seusai pentas aku menemui pak Mulyono di belakang panggung.
“Pak, terima kasih banyak , saya telah banyak dibantu sehingga tugas saya menjadi mudah…”ujarku santun.
“sami – sami, mbak…saya senang bisa membantu…lain kali kalau ada tugas meliput lagi jangan segan menghubungi saya…”ujar pak Mulyono ramah.
“Baik, pak…semoga tidak merepotkan. Permisi..” aku tersenyum , mohon pamit seraya berjalan mundur dan tak memperhatikan langkahku yang kembali menginjak kaki seseorang.
Oooppsss…I did it again ! Duh, cerobohnya aku!! Aku langsung berbalik memutar dan seketika pucat pasi mendapati kaki Mas Juna (AGAIN!) yang terinjak oleh sepatu boots ‘gaban’ aku…
“aduuuuh….” Hanya itu yang mampu terucap.
Mas Juna dengan tangan terlipat di dada menatap ku tajam. Aku pasrah.
“kamu itu, spesialisasinya selain memotret…juga senang sekali menginjak kaki orang ya?,” ujarnya tetap tanpa ekspresi.
“i-iiya…maa-maaf, mas…ndak lihat…saya…” aku tertunduk rikuh dan merasa bersalah.
“ya sudah, nda pa pa…namanya juga ndak sengaja…” langsung ia berlalu.
Haaa? Aku terbengong melihat sikapnya.Idih, ni orang ajaib banget sih? Gerutuku seraya melangkah pergi.
«««
“ini Bu Boss…hasil fotonya…” aku menyerahkan hasil foto pentas kepada mbak Krida keesokan siangnya.
“aku nggak yakin hasilnya bisa memenuhi kriteria atau tidak buat cover bulan depan…” ujarku pasrah menarik kursi di hadapannya.
“Oh my goodness….Kandhi….YOU DID GREAT!!! Dia pas banget buat cover edisi bulan depan..” mbak Krida terpekik histeris melihat hasil jepretan Wayang Orang ku. Aku mengernyitkan dahi. Seru amat Mbak Krida kasih komentar. Aku manggut – manggut lega juga.
“Siapa sih yang Mbak maksud?”
“Ini lho….Ndhi… Juna… penari jawa yang terkenal cool itu..”
Haaa? Dia? Terkenal juga? Koq aku nggak tau?
“Emang nya dia siapa sih…?” tanyaku acuh tak acuh menghampiri mbak Krida…
“Lho, kamu ini gimana sih, Kandhi?. Dia itu terkenal di kalangan seniman wayang karna simpatik dan tegasnya. Udah cakep, santun pula….berarti…” mbak Krida menggantung celotehnya.
“berarti apa , mbak?”
“berarti kamu bisa meliput ke Solo, di sana Surakarta
“haaa? Ke Solo?, aku, aku meliput? Apa nggak salah denger, mbak?”
Aku melotot ke arah mbak Krida.
“ Yap
“Lho, aku kan sana
“ Ada
GLEK ! ternyata….
«««
Kereta api yang kutumpangi mengalami keterlambatan. Dengan mood yang sangat berantakan aku keluar dari stasiun Solo balapan. Pagi hari, pagi buta sampai di ‘negeri orang’ nggak kenal siapa – siapa dan nggak tau arah sama sekali.
Pffffff…aku menyandarkan bahuku di pilar sambil mengumpulkan roh yang masih nyebar.
Duh, jalannya kemana nih.
“Kandhi…” seseorang menepuk bahuku.
Serta merta aku menoleh sigap. GDUBRAAAKKK..Oh,mygoodness..
“eh, Mas Juna…selamat pagi, mas….koq masih inget nama saya? Lagi apa di sini, mas?”
Saking gugup seluruh pertanyaan ‘nggak penting’ langsung meluncur dari mulutku.
“aku menjemputmu..karna Mbak Krida bilang yang akan meliput itu kamu..”
haaaaaa? Menjemput aku?
“eh, iya..mas…malah jadi merepotkan..maaf..” duh, aku jadi grogi begini.
“Ndak apa – apa,” ujarnya sambil tersenyum,” Aku antar kamu ke Wisma Seni. Di sana
Aku mengikuti langkahnya ke tempat parkir motor. Duh, koq deg – deg an begini sih, ujarku grogi.
“Bisa duduknya?” suara Mas Juna membuyarkan gugupku,” eh….bisa mas…” ujarku sambil merengkuh pinggangnya perlahan.
«««
Wisma seni yang terletak di tengah kota
“Silahkan . . istirahat dulu saja….nanti kalau sudah segar baru kita keliling – keliling…”
kita?
“mmmm….maksudnya bagaimana, mas?”
“iya, mbak Krida memberikan tanggung jawab kepadaku untuk menemanimu selama di sini. . “
“Ooh, begitu . . apa mas ndak ada kesibukan lain?”
“kebetulan selama pekan pentas kesenian ini aku lagi bebas tugas tidak menari…” Mas Juna duduk di hadapanku dan tersenyum. Omigod…senyumnya dahsyat sekali. Pffff…semakin grogi.
“Oh ya sudah…berarti sampai ketemu nanti jam dua belas ya, mas. . “
“iya…aku pamit dulu ya . . “
Mas Juna pun berlalu. Aku mencubit diriku. Ternyata ia tidak sedingin waktu pertama kali bertemu.
«««
Tiga haripun tak terasa berlalu. Kebersamaan dengan Mas Juna menimbulkan perasaan lain di hatiku. Bersamanya aku merasa nyaman. Ia dengan sabar menungguku meliput dan menemaniku keliling kota
Aduh, jangan – jangan…aku jatuh cinta. . .
Bunyi ketukan di pintu membuyarkan lamunanku.
“siapa . .?”
“aku . . “ suara Mas Juna.
Aku beranjak dari tempat tidurku dan membuka pintu.
“hai . . bawa apa mas?”
“makanan buatmu…soalnya kamu kan
“asiiiiiiiiikkkk . . .” sorak ku lepas.
Mas Juna menatapku lekat dan tersenyum.
“eh, kenapa mas?”
“kamu itu lucu . . seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan . . “ ujarnya sambil terkekeh.
Aku tertawa tersipu malu menyadari tingkahku,”hehehehe…..ajaib ya?”
“ndak…itu kan
Aku mengambil sendok bersamaan dengan Mas Juna yang juga mengambil sendok. Jemari kami bersentuhan dan menimbulkan aliran listrik dalam tubuhku. Buru
“mmm…ada apa, mas?”
“mmm…ndak apa – apa . . “ kami bertatapan sejenak dan kemudian makan dalam diam.
“aku pikir mas itu orangnya galak dan dingin…ternyata ramah . .” ujarku membuka percapakan lagi.
“masak sih seperti itu?” ia mengernyit lucu.
“iyaa…inget nggak pertama kali kita ketemu. Wajah mas itu dingin banget…apalagi pas ndak sengaja terinjak kakinya..”
Mas Juna tergelak.
“Kandhi . . Kandhi…ya terang aja agak galak…lha wong sepatumu itu abot..trus menginjak kaki ku yang imut – imut ini..”
“hehehehe… kan
Tiba – tiba telunjuknya menyentuh hidungku,”makanya …lain kali pakai sepatunya jangan yang buat ngulek seperti itu ya…”
Setelah makan Mas Juna mengajak aku ke Balai Soejatmoko dan tak sadar malam sudah larut. Dalam perjalanan pulang ternyata ban motornya kempes. Refleks aku menggenggam tangannya menyatakan perasaan bersalah.
“aduh, ini karena aku ya? Bikin sial mas aja….pakai acara kempes segala….”
“nda…mungkin sudah waktunya harus kempes koq….jangan begitu . . “
kami keliling mencari tukang tambal ban.
“Apa ada tukang tambal ban jam sebelas malem begini?” ujarku cemas.
“ada…di ujung jalan itu. . .kamu capek ndak?” ujarnya prihatin.
Aku menggeleng kuat – kuat,”ndak sama sekali….malah aku merasa bersalah sudah bikin repot. . “
Mas Juna mengelus bahuku,”tenang aja, itu sama sekali bukan salahmu,koq…ayo kita balapan ke tempat tukang tambal ban itu…”
Kami berlarian berlomba sambil tertawa menuju tempat tambal ban.
“pfiuuuuh…akhirnya ketemu juga,” ujarku lega sambil melonjorkan kaki.
Ia menghempaskan tubuhnya di sisiku . Spontan aku usap keringatnya dengan saputanganku. Mas Juna terlihat kaget. Ia segera meraih jemariku yang masih memegang saputangan dan menggenggam jemariku.
“terima kasih ya, Kandhi….ini akan jadi pengalaman yang tak akan terlupakan . . “
Aku merasa wajahku bersemu dan tersipu.
“hehehehe…kembali kasih, Mas. . . seneng aja kalau menjadi yang tak akan terlupakan . .”
“pasti, tak akan lupa . . engkau istimewa . . “ ia menatapku lekat dan tersenyum. Gdubrakkk.
«««
Sore ini Mas Juna menjemputku untuk meliput hari terakhir pekan kesenian Surakarta
“aduh, mas basah kuyub . . . ganti pakai kaosku dulu aja . . “ ujarku sambil mengangsurkan kaosku yang masih baru dibeli di pasar Klewer kemarin sore.
“pinjem dulu ya . . nunggu reda dulu baru kita berangkat. . “
“tenang aja lagi , mas…pentasnya kan
Kami duduk bersisian. Bercerita panjang lebar dan tertawa. Sejenak aku menatapnya dalam diam. Mengagumi binar matanya dan manis senyumnya. Di saat aku begitu terpana menatapnya, Mas Juna menoleh dan kurasa wajah kami begitu dekat satu sama lain. Glek. Aku menahan napas. Ia sangat dekat dan harum tubuhnya menyesap hidungku. Kami sudah sedekat ini. Aku bertanya – tanya dalam hati, kira – kira ia akan melakukan apa?
Ia bergerak rikuh menjauh dan melongok ke luar jendela ,”hujannya sudah reda. Ayo kita berangkat, Ndhi . . “
Aku bergerak mengikuti sambil menyesalkan betapa singkatnya kedekatan itu.
«««
Taman Sriwedari cukup di padati pengunjung malam itu. Maklum, malam penutupan. Aku beringsut melawan arus orang – orang yang tumpah ruah di lapangan yang berukuran lapangan bola itu. Mas Juna mengikuti di belakang.
Tiba – tiba,”Bapaaaak . . “ seorang anak laki - laki berlari menghampiri Mas Juna.
Aku terkesiap. Wajah anak kecil itu begitu mirip dengannya. Mas Juna merengkuh anak itu dan tersenyum ke arahku.
“ini lho, mas bagus. . .tante Kandhi yang Bapak ceritakan itu . . “ aku semakin tercekat. Oh, ternyata, ia…
“Bapaaakkk…” ada suara lain lagi di belakangku. Suara seorang anak perempuan yang digandeng ibunya yang tersenyum ramah ke arahku. Hatiku langsung mencelos.
Mas Juna tersenyum ke arah mereka dan melambai.
“Halo putri cantik. .. jadi juga nyusul Bapak ke sini,” ia menggendong putri cantik dan melambai ke arah ibunya.
“Kandhi, ini kenalkan keluargaku . . istriku , Gayatri. . anakku Bagus dan Cantik…”
aku tersenyum kepada mereka dan ada sesuatu yang langsung merenggut hatiku. Patah hati. Dan tak pernah terpikirkan sama sekali oleh ku bahwa ia telah berkeluarga.
Tak lama kemudian aku memisahkan diri dengan mereka sambil merasakan hatiku teriris dan merasa malu atas seluruh salah tafsir yang aku terima.
Seusai meliput penutupan aku tercenung terduduk di pendopo sambil menunggu Mas Juna dan keluarganya .
“tante Kandhi . . “ sapa mas Bagus. Aku merengkuh pinggangnya,” udah nontonnya? Seneng?” ia mengangguk. Di belakangnya tampak Mas Juna , Mbak Gayatri dan putri Cantik.
“yuk, Kandhi…kita makan malam dulu sebelum kembali ke penginapan,” ajak mbak Gayatri ramah.
Kami makan malam lesehan di pasar lama. Menyaksikan keharmonisan keluarganya ternyata membuatku semakin jatuh hati. Tatapan matanya yang penuh kasih kepada kedua anaknya meluluhkan hatiku.
“Kandhi, tambah ayo nasinya . . .” mbak Gayatri membuyarkan lamunanku. Aku tersipu dan langsung melahap bebek goreng yang lezat. Semuanya mengantarkanku kembali ke penginapan. Sempat aku bersitatap dengan Mas Juna. Entah apa yang tersirat di sana
“oh iya, mbak…aku sekalian nyuwun pamit. Besok pulang ke Jakarta
“iya, ati - ati ya . . sukses untuk tugasnya . .”
“mohon maaf lho, mbak…Mas Juna nya sudah aku buat repot selama seminggu ini . . “
“jangan sungkan begitu….tidak apa – apa…Mas Juna juga sudah cerita banyak dipasrahi tanggung jawab untuk menemani Kandhi meliput. . “
Tak lama kemudian kamipun berpisah. Jiwaku terasa melayang. Antara patah hati dan jatuh cinta bercampur aduk rasanya. Walaupun rasanya tetap saja. . .perih.
«««
Pagi hari di stasiun Balapan Solo . Hoaeeem, aku menguap masih mengantuk. Hawa dingin membuatku mengancingkan jaket hingga atas. Hhhhhhhh, menghela napas dalam. Masih tak percaya apa yang kulihat, apa yang kurasa, apa yang ku alami. Jatuh cinta sekaligus patah hati, pada saat yang bersamaan. Rasanya lirih. Tak terasa air mataku berlinang, perih. Mas Juna, gumamku.
“Kandhi . . “ sontak suara seseorang mengejutkan aku.
“Oh, Mas Juna . . pagi – pagi sudah di sini ? “ aku berdiri rikuh. Iapun tampak rikuh menatapku.
“iya . . a-aku . .ingin melepasmu pulang ke Jakarta
“wah, terima kasih, mas…masih merepotkan saja aku ya . .” ujarku berusaha bersikap wajar.
“tidak, dengan senang hati aku melakukannya…”
Mas Juna duduk di sisiku. Kami terdiam dan berusaha menikmati kebersamaan di detik terakhir sebelum keretaku datang.
“Mas . .”
“Kandhi . . “
kami bertabrakan akan bicara.
“Mas dulu . . “
Ia terlihat menghela nafas berat.
“bersamamu aku mengalami hal – hal yang sudah lama tidak aku alami . . “ matanya menerawang ke langit – langit koridor peron.
“maksudnya?”
“iya, bermain hujan di bawah jembatan, berlari berlomba mencapai tempat tambal ban ataupun tertawa lepas membahas hal – hal bebas . . dan . . . “
“dan apa. Mas . .?”
Mas Juna tak melanjutkan kalimatnya. Hanya menggeleng saja dan tersenyum.
“entahlah Kandhi . . aku sampai tidak bisa berkata – kata. Tapi terima kasih ya untuk segalanya . . “
“Aku juga, mas….banyak pengalaman aku dapat di sini …Terima kasih juga . . “ dan aku pun jatuh cinta padamu, lanjutku dalam hati.
Keretaku pun tiba. Bergegas aku beranjak tak rela.
“Kandhi pamit ya, mas. . . “ Kuangsurkan tanganku ke arahnya.
Mas Juna menyambut jemariku dan menggenggamnya lama. Dan ia mencium pipiku.
Aku tertegun dan seolah tak bernafas.
“Mas Juna . . “
“hati – hati ya, Kandhi . . “ bisiknya di telingaku. Aku mengangguk dan dengan enggan meninggalkannya. Meninggalkan cintaku yang baru tumbuh, meninggalkan luka hatiku yang mulai menorehkan jiwaku.
«««
Tiga jam pertunjukan usai sudah. Kesempurnaannya membekas di hati.
Aku melangkah perlahan dengan perasaan kosong keluar dari gedung RRI. Berjalan menembus keramaian.
Jiwaku terasa berat dan hampa. Namun bulat sudah. Harus kuakhiri semua. Harus kuhapus seluruh rasa yang ada. Selamat tinggal, Mas Juna. Toh memang tak ada sebentuk cinta itu untuk aku. Sedikit saja..tak pernah ada, baik ruang maupun waktu itu. Semuanya kurajut sendiri, Asa itu kandas sudah. Aku bahagia melihatmu bahagia . . . . bersama keluargamu. Tak mau aku rusak semua itu. Dan…
“KANDHI…? “
suara yang teramat aku kenal bagai petir menyambar ke telingaku. Membuyarkan lamunanku. Tubuhku serta merta melunglai. Seperti maling ayam yang tertangkap basah mencuri di siang bolong.
Sosok itu menghampiri. Mas Juna. Wajahnya tersurat tanda tanya dan terkejut luar biasa.
“Ehm, Mas Juna…”
“Kandhi…A - Apa yang kamu lakukan di sini?” ia menggamit lenganku menyingkir dari keramaian dan berjalan menuju pendopo yang sepi.
Kami duduk bersisian.
Aku menghela nafas .
“Kandhi . . ?”
“mmmm…aku….aku…melihatmu pentas…” ujarku berusaha menetralisir getar di nada bicaraku.
“melihatku pentas?” ujarnya tak mengerti.
Kutatap matanya lekat. Duh, betapa aku merindukannya. Amat sangat. Rasanya luka menyadari cinta itu selalu ada untuknya.
“Iya, mas…aku hanya ingin melihatmu pentas…apa ada yang salah dengan itu?”
“Tidak…tidak ada yang salah….” Ia terlihat bingung. Terdiam untuk sesaat. Akupun bingung. Harus mulai dari mana menjelaskannya.
“kamu…dari Jakarta
aku mengangguk.
Kok tidak kasih kabar ke aku kamu mau kemari?” tanyanya lembut. Duh , Gusti…rasa rindu itu begitu membuncah. Bobol sudah ‘tabungan’ rinduku padanya.
“ndak perlu kan
“Kandhi….ada apa denganmu?” Mas Juna menatapku dan tangannya serta merta meraih lenganku. Kutepis dengan refleks.
“Kandhi..?”
“Jangan, mas….nanti dilihat orang…ndak enak. Apa kata mereka…nanti mereka anggap aku apa?”
“Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Aku ndak peduli apa kata mereka yang melihat kita…”
“Ndak peduli apa kata mereka? Tapi aku peduli…aku tidak mau menjatuhkan nama baikmu di depan mereka…” ucap ku meninggi.
“Ssshhh…Kandhi…tenangkan dirimu…” Mas Juna berusaha menenangkan ku yang perlahan namun pasti mulai terisak. Benteng pertahanan air mataku bobol sudah. Seiring dengan gerimis yang mulai membasahi teras pendopo.
“Sesungguhnya….aku kemari…hanya ingin melihatmu pentas…walau aku hanya menatapmu dari kejauhan sudah merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku…a - aku…rindu padamu…”
“Kandhi..” Mas Juna terperangah mendengar pengakuanku,” kamu…..”
“Iya…rindu..” ujarku lirih,”rindu itu yang begitu membuncah…yang membawaku kemari…walaupun aku harus tegas pada diriku untuk tidak menemuimu…”
“tapi akhirnya kita bertemu….karna aku melihat sekelebat bayangmu …”
“Mas melihat aku..?” aku terkesiap, “ bagaimana bisa? Aku kan
“tapi terbukti kan
“Kandhi….itulah namanya rasa…aku merasa kau ada. Begitu selesai , aku tegaskan apa yang kurasa. Kuikuti hatiku mencari keberadaanmu. Dan memang……nyata….”
Duh, wangi tubuhnya menyesap ke dalam hidungku. Mas Juna. Ia sekarang begitu dekat denganku.
“Mohon maaf…tapi…”
“sssshh…jangan ada mohon maaf dan kata tapi…,” Mas Juna meletakkan telunjuknya di bibirku,” biarkan kita nikmati saat ini…biarkan kita seolah berada di alam mimpi…”
“Mas Juna…”
“Kandhi,” ujarnya menghela napas,” aku pun rindu padamu…”
Oh, My goodness…aku nggak salah denger? Tubuhku menegang, mataku terbelalak , terkejut tingkat tinggi.
“Mas Juna…aku…aku…,..” aku menepuk pipiku, meyakinkan itu bukan mimpi dan mencubit tangannya.
“aduuh, sakit.. …” ia meringis. Entah aku harus merasa bahagia atau sebaliknya terluka.
Pandangan kami bertemu. Mas Juna menggenggam jemariku.
“Seperti aku pernah bilang waktu itu padamu….bahwa bersamamu aku mengalami hal – hal yang sudah lama tidak aku alami . . ternyata engkau menghadirkan satu rasa baru . .yang susah payah pula aku sangkal karena tidak boleh hadir di hidupku. . tapi . . .ternyata sulit . . “
Aku menunduk lirih. Mas Juna berkata lagi, “ biarlah malam ini kita bermimpi, maafkan aku…membuat mu terluka. Karena kita tak akan pernah bisa bersama …tapi jujur, aku mengakui bahwa rasa itu ada…”
aku mengangguk membiarkan rengkuhnya menenangkan hati dan jiwaku.
Duh, Gusti..kalau boleh waktu membeku, berhenti berputar sedetik saja. Membiarkan kami berdua mengungkapkan rasa ini. Membiarkan kami melayang membumbung tinggi. Biarkan kali ini saja. Karna esok hari tak akan mungkin terjadi seperti ini . .
«««
ENDING :
Belahan jiwa,
yang menghubungkan engkau dan aku,
bukan cinta…
tapi sebuah ‘keajaiban’ semata
dan
kumpulan mimpi..
rintik hujan dan bulan..adalah saksi..
cinta kita adalah maya,
bukan nyata . . walaupun kita sama rasa . .

Recent Comments